KENDARI – Universitas Mandala Waluya (UMW) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Kendari telah menghadirkan terobosan penelitian yang berpotensi mengubah lanskap industri perikanan lokal. Sebuah tim multidisiplin yang terdiri dari dosen dan mahasiswa berhasil mengembangkan teknologi inovatif untuk pengolahan limbah perikanan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Penelitian yang dimulai sejak Januari 2025 ini resmi diluncurkan kepada publik pada Kamis, 3 April 2026, di Aula Utama UPT UMW Kendari.
Inovasi yang dinamai “AquaWaste Pro System” ini menggabungkan proses bioteknologi dan engineering untuk mengolah limbah ikan seperti sisik, jeroan, dan tulang menjadi bahan baku berkualitas tinggi untuk industri kosmetik, farmasi, dan pakan ternak premium. Dengan sistem pengolahan yang ramah lingkungan, teknologi ini diharapkan dapat mengurangi beban pencemaran perairan Sulawesi Tenggara sekaligus membuka peluang usaha bagi komunitas nelayan dan pengusaha mikro di wilayah Kendari dan sekitarnya.
Latar Belakang Penelitian yang Strategis
Industri perikanan merupakan salah satu pilar ekonomi Sulawesi Tenggara. Data Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa setiap tahunnya ribuan ton ikan diproses di berbagai tempat pengolahan ikan (TPI) dan industri rumahan di Kendari dan wilayah sekitarnya. Namun, kegiatan pengolahan ikan tersebut menghasilkan limbah organik yang masif dan seringkali tidak terkelola dengan baik.
“Kami melihat ada paradoks menarik di sini. Di satu sisi, perikanan adalah sumber kehidupan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, limbah dari industri ini menciptakan masalah lingkungan yang serius,” ujar Dr. Ir. Bambang Sutrisno, M.Eng., Ketua UPT UMW Kendari, dalam sambutannya pada acara peluncuran penelitian tersebut.
Limbah perikanan yang tidak dikelola dapat menghasilkan bau menyengat, menarik hama, dan menyebabkan pencemaran air laut serta sungai. Namun, di balik masalah tersebut, terdapat peluang emas yang selama ini terlewatkan. Limbah ikan mengandung kolagen, protein, dan mineral penting yang bernilai ekonomi tinggi jika diolah dengan teknologi yang tepat.
Tim peneliti UMW Kendari, yang dipimpin oleh Dr. Suryanto, S.T., M.T., Dosen Senior di Departemen Teknik Bioproses, memutuskan untuk menjadikan limbah perikanan sebagai fokus penelitian serius. “Kami percaya bahwa inovasi harus berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Limbah perikanan adalah masalah nyata yang dihadapi nelayan dan pengusaha kecil setiap hari. Jika kami bisa mengubah limbah menjadi sumber penghasilan, itu akan menjadi game-changer,” kata Dr. Suryanto pada acara tersebut.
Metodologi dan Proses Pengembangan Teknologi
Penelitian AquaWaste Pro System melibatkan lebih dari 15 mahasiswa dari berbagai program studi, termasuk Teknik Bioproses, Manajemen Industri, Teknologi Hasil Perikanan, dan Ilmu Lingkungan. Kolaborasi lintas disiplin ini mencerminkan komitmen UMW Kendari untuk mengembangkan solusi holistik yang tidak hanya viable secara teknis, tetapi juga berkelanjutan dari segi ekonomi dan lingkungan.
Proses pengembangan dimulai dengan riset literatur mendalam mengenai teknologi pengolahan limbah perikanan yang sudah ada di berbagai negara, seperti Jepang, Norwegia, dan Thailand. Tim peneliti kemudian melakukan survei lapangan terhadap 45 unit pengolahan ikan di sekitar Kendari untuk memahami karakteristik limbah lokal dan kebutuhan spesifik industri perikanan setempat.
“Data yang kami kumpulkan sangat bervariasi. Ada limbah dari ikan tangkapan, ada juga dari budidaya. Karakteristik limbahnya berbeda-beda tergantung jenis ikan dan metode pengolahan. Kami harus mengembangkan sistem yang fleksibel dan dapat beradaptasi,” jelas Siti Nurhaliza, S.T., mahasiswa tingkat akhir Teknik Bioproses yang menjadi salah satu peneliti utama dalam proyek ini.
Fase berikutnya adalah pengembangan prototipe di laboratorium UPT UMW Kendari. Tim melakukan eksperimen berulang kali untuk mengoptimalkan parameter proses, seperti suhu, pH, waktu fermentasi, dan jenis bakteri yang digunakan dalam pengolahan. Proses ini memakan waktu kurang lebih 8 bulan dengan melibatkan puluhan jam kerja dalam laboratorium.
Hasil dari prototipe awal menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Limbah ikan yang semula berupa bahan organik berkualitas rendah dapat dikonversi menjadi tiga produk utama: (1) kolagen terkonsentrasi untuk industri kosmetik dan farmasi, (2) peptida bioaktif dengan potensi aplikasi kesehatan, dan (3) mineral kompleks untuk suplemen pakan ternak.
Spesifikasi Teknis dan Keunggulan Inovasi
AquaWaste Pro System adalah sistem terpadu yang menggabungkan beberapa tahap pemrosesan. Tahap pertama adalah preprocessing, di mana limbah ikan disortir dan dibersihkan. Tahap kedua adalah hidrolisis enzimatik, proses yang menggunakan enzim alami untuk memecah struktur protein kompleks menjadi komponen yang lebih sederhana dan bernilai tinggi. Tahap ketiga adalah fermentasi biologis, di mana mikroorganisme menguntungkan digunakan untuk meningkatkan nilai nutrisi dan bioavailabilitas produk.
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah efisiensi energinya. Berbeda dengan teknologi konvensional yang memerlukan panas tinggi dan bahan kimia sintetis, AquaWaste Pro System menggunakan proses biologis yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya operasional. Hasil analisis lifecycle assessment menunjukkan bahwa teknologi ini mengurangi emisi karbon sebesar 60 persen dibandingkan dengan metode pembuangan limbah tradisional.
“Kami juga sangat memperhatikan aspek keberlanjutan. Setiap komponen dalam sistem ini dapat didaur ulang atau didegradasi secara biologis. Limbah dari proses produk kami pun masih bisa dimanfaatkan lebih lanjut. Ini adalah ekonomi sirkular yang sebenarnya,” kata Prof. Dr. Hendrikus Sule, M.Sc., Direktur Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UMW, yang juga hadir dalam acara peluncuran.
Uji coba lapangan yang dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2026 dengan melibatkan lima unit pengolahan ikan di Kendari menunjukkan hasil yang konsisten. Dari setiap ton limbah ikan, sistem mampu menghasilkan rata-rata 150 kilogram kolagen murni, 80 kilogram peptida bioaktif, dan 120 kilogram mineral kompleks. Dengan harga pasar saat ini, nilai ekonomi dari setiap ton limbah bisa mencapai Rp 25 hingga 35 juta.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Potensi dampak ekonomi dari inovasi ini sangat signifikan. Menurut kalkulasi tim peneliti, jika teknologi ini diadopsi secara luas oleh industri perikanan di Sulawesi Tenggara, dapat dihasilkan nilai tambah ekonomi senilai Rp 180 hingga 240 miliar per tahun. Selain itu, teknologi ini membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru, baik dalam aspek operasional sistem maupun distribusi dan pemasaran produk akhir.
“Kami sudah memiliki beberapa pernyataan minat dari perusahaan kosmetik dan farmasi di Surabaya dan Makassar. Ada juga pengusaha lokal yang tertarik untuk memulai usaha di bidang ini. Yang penting sekarang adalah bagaimana kami mentransfer teknologi ini dengan efektif dan memastikan bahwa masyarakat lokal mendapatkan keuntungan maksimal,” ungkap Dr. Suryanto dengan antusias.
Selain dampak ekonomi, inovasi ini juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dengan mengolah limbah perikanan secara optimal, beban pencemaran ke ekosistem laut berkurang signifikan. Survei awal di lokasi uji coba menunjukkan perbaikan kualitas air laut di sekitar TPI yang menerapkan teknologi AquaWaste Pro System.
Aspek sosial juga tidak diabaikan. Tim peneliti sudah menyiapkan program pelatihan untuk pengusaha kecil dan nelayan yang ingin mengadopsi teknologi ini. UMW Kendari juga berkomitmen untuk memberikan dukungan teknis berkelanjutan dan memfasilitasi akses ke pasar bagi produk yang dihasilkan dari limbah perikanan.
Pandangan Pimpinan Kampus dan Target Pengembangan Selanjutnya
Dr. Ir. Bambang Sutrisno menekankan bahwa penelitian ini mencerminkan visi UMW Kendari sebagai universitas yang berorientasi pada problem-solving dan pembangunan berkelanjutan. “Universitas Mandala Waluya percaya bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang menghasilkan lulusan yang terserap industri, tetapi juga menciptakan inovasi yang mengubah masyarakat. AquaWaste Pro System adalah contoh nyata dari komitmen kami tersebut,” katanya.
Ke depannya, tim peneliti menargetkan untuk menyelesaikan proses sertifikasi dan standarisasi produk dalam enam bulan ke depan. Mereka juga sedang mengurus paten untuk teknologi ini, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada kuartal ketiga 2026, direncanakan pembangunan fasilitas demonstration plant semi-komersial di lokasi yang akan ditentukan kemudian, dengan kapasitas olah limbah sekitar 5 ton per hari.
Jangka panjang, tim peneliti berharap dapat mengembangkan sistem modular yang dapat disesuaikan untuk berbagai skala usaha, mulai dari skala mikro untuk pengusaha perorangan hingga skala industri menengah. Mereka juga merencanakan ekspansi ke jenis limbah organik lainnya, seperti limbah peternakan dan pertanian.
“Kami ingin menjadikan UMW Kendari sebagai pusat inovasi ekonomi sirkular di Sulawesi Tenggara. Jika sukses, model ini bisa direplikasi ke daerah lain dengan basis ekonomi berbasis sumber daya alam,” tambah Prof. Dr. Hendrikus Sule dengan optimisme.
Penutup
Peluncuran AquaWaste Pro System pada 3 April 2026 menandai babak baru dalam upaya mengatasi masalah limbah perikanan sambil membuka peluang ekonomi baru di Sulawesi Tenggara. Penelitian ini membuktikan bahwa dengan dedikasi, kolaborasi lintas disiplin, dan fokus pada kebutuhan lokal, universitas dapat menjadi katalis perubahan sosial dan ekonomi yang nyata.
Keberhasilan penelitian ini juga menginspirasi mahasiswa lain untuk tertarik mengembangkan solusi inovatif bagi tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat. Beberapa mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini telah mendapatkan penawaran untuk melanjutkan penelitian di tingkat pascasarjana atau bergabung dengan startup teknologi yang sedang berkembang.
Dengan dukungan dari pemerintah daerah, industri swasta, dan komitmen berkelanjutan dari UMW Kendari, teknologi AquaWaste Pro System diharapkan dapat segera diterapkan secara luas dan memberikan manfaat konkret bagi ribuan pengusaha dan masyarakat perikanan di Kendari dan sekitarnya. Inovasi ini adalah bukti bahwa universitas mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kehidupan nyata masyarakat.
—
Artikel ini ditulis berdasarkan acara peluncuran penelitian yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Universitas Mandala Waluya di Kendari pada tanggal 3 April 2026.